Journal · Culture & Heritage · 27 Sep 2026

Belajar Jamu dari Titi Ratu: Warisan Pengetahuan yang Terus Hidup

Catatan pertama saya sebagai Duta Budaya tentang jamu, pengetahuan tradisional, dan bagaimana sebuah warisan tetap hidup karena terus dipelajari.

Devina bersama salah satu Duta Budaya Nasional di Omah Jamu Jeng Ratu, Sleman
Devina bersama salah satu Duta Budaya Nasional saat mengikuti sesi belajar jamu dan pengetahuan herbal tradisional di Omah Jamu Jeng Ratu, Sleman.

Sebagai Duta Budaya, saya mulai menyadari bahwa budaya tidak selalu hadir dalam bentuk pertunjukan, pakaian tradisional, atau upacara. Kadang, budaya justru hidup sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: di dapur, di halaman rumah, pada tanaman yang tumbuh di sekitar kita, dan pada pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hari ini saya berkesempatan belajar langsung di Omah Jamu Jeng Ratu, di kawasan Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Bersama Titi Ratu, kami mengenal berbagai bahan jamu, melihat cara bahan-bahan itu dipersiapkan, dan belajar bahwa meracik jamu tidak sekadar mencampurkan banyak rempah.

Meja penuh bahan, tetapi bukan berarti semuanya dicampur

Di hadapan kami tersaji berbagai bahan seperti kunyit, jahe, jeruk nipis, serai, pandan, cengkih, kapulaga, aneka rimpang, serta berbagai simplisia berupa daun, bunga, biji, dan rempah yang telah dikeringkan.

Bagian yang paling menarik bagi saya justru bukan banyaknya bahan, melainkan cara Titi Ratu menjelaskan prinsip meraciknya. Ada bahan-bahan dasar yang menjadi fondasi racikan, kemudian bahan lain dapat ditambahkan sesuai kebutuhan atau peruntukannya. Artinya, membuat jamu bukan sekadar menghafal resep. Kita perlu memahami bahan dan alasan mengapa bahan itu dipilih.

Untuk kebutuhan yang lebih khusus berkaitan dengan kesehatan, Titi Ratu juga menjelaskan pentingnya berkonsultasi terlebih dahulu. Saya menangkapnya sebagai pengingat bahwa pengetahuan tradisional pun perlu digunakan dengan pertimbangan, bukan asal mencampurkan bahan.

Kunyit: ketika tradisi bertemu ilmu pengetahuan

Salah satu bahan yang langsung menarik perhatian saya adalah kunyit. Dalam tradisi jamu, kunyit sudah lama digunakan dalam berbagai racikan. Sementara itu, ilmu pengetahuan modern banyak meneliti kurkumin, salah satu senyawa utama pada kunyit, termasuk aktivitas antiinflamasinya.

Bagi saya, bagian ini menarik karena menunjukkan bahwa tradisi dan sains tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling berlawanan. Tradisi menyimpan pengalaman panjang manusia dalam menggunakan tanaman, sedangkan sains memberi cara untuk menguji, menjelaskan, dan memahami mekanismenya dengan lebih terukur.

Belajar dari orang yang menjaga pengetahuan itu

Pengalaman hari ini terasa berbeda karena kami tidak hanya membaca tentang jamu dari buku atau internet. Kami mendengarkan langsung orang yang sudah lama hidup bersama pengetahuan tersebut, melihat bahan-bahannya, dan mengikuti proses pembuatannya.

Setelah sesi rombongan kami selesai, datang rombongan lain dari Sulawesi untuk mengikuti kegiatan berikutnya. Momen kecil itu membuat saya melihat Omah Jamu Jeng Ratu dengan cara yang berbeda. Tempat ini bukan hanya tempat menikmati jamu, tetapi juga tempat orang datang untuk belajar. Pengetahuan tentang jamu terus bergerak dari satu orang ke orang lain dan dari satu daerah ke daerah lain.

Apa yang saya bawa pulang

Saya jadi memahami bahwa menjaga budaya tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Menjaga budaya bisa dimulai dengan mau datang, bertanya, mendengarkan, mencoba, mencatat, lalu menceritakan kembali apa yang kita pelajari kepada generasi kita sendiri.

Jamu bagi saya sekarang bukan hanya minuman tradisional. Di dalamnya ada pengetahuan tentang tanaman, pengalaman manusia, cara meracik, kebiasaan keluarga, dan proses panjang sebuah pengetahuan bertahan dari generasi ke generasi.

Dan mungkin salah satu cara paling sederhana untuk ikut menjaganya adalah dengan terus belajar darinya.

Experience → Knowledge → Reflection
Budaya menjadi lebih hidup ketika saya tidak hanya melihatnya, tetapi juga mencoba memahami pengetahuan di baliknya.

Catatan ini merupakan refleksi pengalaman belajar. Informasi mengenai penggunaan jamu untuk kebutuhan kesehatan tidak dimaksudkan sebagai diagnosis atau pengganti nasihat tenaga kesehatan.

Lokasi & Arah

Omah Jamu Jeng Ratu

Lokasi: kawasan Turen/Plumbon, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejumlah sumber publik mencantumkan lokasi sekitar Jl. Kaliurang Km 12–12,5.

Dari Tugu Yogyakarta atau Malioboro: arahkan perjalanan ke utara menuju koridor Jalan Kaliurang, lanjutkan menuju Ngaglik–Sardonoharjo, kemudian gunakan navigasi digital dengan tujuan “Omah Jamu Jeng Ratu” untuk titik masuk terakhir.

Catatan Sumber

Informasi lokasi dan riwayat fungsi edukasi Omah Jamu Jeng Ratu diperiksa silang dengan sumber publik, termasuk liputan UPN Veteran Yogyakarta dan IDN Times Jogja. Detail pengalaman, bahan yang digunakan dalam sesi, serta penjelasan tentang racikan sesuai peruntukan berasal dari catatan lapangan kegiatan hari ini.