Sebagai Duta Budaya, saya mulai menyadari bahwa budaya tidak selalu hadir dalam bentuk pertunjukan, pakaian tradisional, atau upacara. Kadang, budaya justru hidup sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: di dapur, di halaman rumah, pada tanaman yang tumbuh di sekitar kita, dan pada pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Hari ini saya berkesempatan belajar langsung di Omah Jamu Jeng Ratu, di kawasan Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Bersama Titi Ratu, kami mengenal berbagai bahan jamu, melihat cara bahan-bahan itu dipersiapkan, dan belajar bahwa meracik jamu tidak sekadar mencampurkan banyak rempah.
Meja penuh bahan, tetapi bukan berarti semuanya dicampur
Di hadapan kami tersaji berbagai bahan seperti kunyit, jahe, jeruk nipis, serai, pandan, cengkih, kapulaga, aneka rimpang, serta berbagai simplisia berupa daun, bunga, biji, dan rempah yang telah dikeringkan.
Bagian yang paling menarik bagi saya justru bukan banyaknya bahan, melainkan cara Titi Ratu menjelaskan prinsip meraciknya. Ada bahan-bahan dasar yang menjadi fondasi racikan, kemudian bahan lain dapat ditambahkan sesuai kebutuhan atau peruntukannya. Artinya, membuat jamu bukan sekadar menghafal resep. Kita perlu memahami bahan dan alasan mengapa bahan itu dipilih.
Untuk kebutuhan yang lebih khusus berkaitan dengan kesehatan, Titi Ratu juga menjelaskan pentingnya berkonsultasi terlebih dahulu. Saya menangkapnya sebagai pengingat bahwa pengetahuan tradisional pun perlu digunakan dengan pertimbangan, bukan asal mencampurkan bahan.
Kunyit: ketika tradisi bertemu ilmu pengetahuan
Salah satu bahan yang langsung menarik perhatian saya adalah kunyit. Dalam tradisi jamu, kunyit sudah lama digunakan dalam berbagai racikan. Sementara itu, ilmu pengetahuan modern banyak meneliti kurkumin, salah satu senyawa utama pada kunyit, termasuk aktivitas antiinflamasinya.
Bagi saya, bagian ini menarik karena menunjukkan bahwa tradisi dan sains tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling berlawanan. Tradisi menyimpan pengalaman panjang manusia dalam menggunakan tanaman, sedangkan sains memberi cara untuk menguji, menjelaskan, dan memahami mekanismenya dengan lebih terukur.
Belajar dari orang yang menjaga pengetahuan itu
Pengalaman hari ini terasa berbeda karena kami tidak hanya membaca tentang jamu dari buku atau internet. Kami mendengarkan langsung orang yang sudah lama hidup bersama pengetahuan tersebut, melihat bahan-bahannya, dan mengikuti proses pembuatannya.
Setelah sesi rombongan kami selesai, datang rombongan lain dari Sulawesi untuk mengikuti kegiatan berikutnya. Momen kecil itu membuat saya melihat Omah Jamu Jeng Ratu dengan cara yang berbeda. Tempat ini bukan hanya tempat menikmati jamu, tetapi juga tempat orang datang untuk belajar. Pengetahuan tentang jamu terus bergerak dari satu orang ke orang lain dan dari satu daerah ke daerah lain.
Apa yang saya bawa pulang
Saya jadi memahami bahwa menjaga budaya tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Menjaga budaya bisa dimulai dengan mau datang, bertanya, mendengarkan, mencoba, mencatat, lalu menceritakan kembali apa yang kita pelajari kepada generasi kita sendiri.
Jamu bagi saya sekarang bukan hanya minuman tradisional. Di dalamnya ada pengetahuan tentang tanaman, pengalaman manusia, cara meracik, kebiasaan keluarga, dan proses panjang sebuah pengetahuan bertahan dari generasi ke generasi.
Dan mungkin salah satu cara paling sederhana untuk ikut menjaganya adalah dengan terus belajar darinya.